- @idrchi: Beritakan padanya, Lely, cinta tak melulu perihal memberi, namun juga menjaga duri agar tak menusuk jarinya sendiri. cc: @tupin_
- @tupin_: Seorang pernah bilang: "Jatuh cinta itu, lebih lembut dari langkah-langkah semut, ketika merayap." Dan aku percaya, sejak mengenalmu @idrchi
- @idrchi: Jika kau mau, @tupin_, bakarlah aku jadi abu. Agar mampu dibawa angin--jauh, jatuh tepat di atas degup jantungmu.
- @tupin_: Tapi, @idrchi, aku hanya gantungan kunci, yang bermimpi, menjadi anting di telingamu yang puisi.
- @idrchi: Coba ceritakan lagi padaku, @tupin_, tentang malam-malam yang hilang, ketika sepasang mata kita sibuk, saling memberi terang.
- @tupin_: Malam itu, @idrchi, kita adalah lampu teplok, di rumah kakek miskin, ujung blok. Tak ada lagi kesepian, di sana.
- @idrchi: Lalu kita pura-pura lupa, @tupin_, bahwa malam sudah renta dan pagi berebut masuk jendela. Duh, ternyata bersama tak kenal kata selamanya.
- @tupin_: Kita bukan lagi pelupa -atau pura-pura lupa- @idrchi, namun amnesia, dengan kesedihan masing-masing kita.
- @idrchi: Kesedihan hanyalah sepenggal kisah lain, @tupin_, tak seberapa melukai dibandingkan dengan kita yang bersisian, tapi saling memunggungi.
June 2013
27 posts

pagi adalah tenang yang memeluk ketika tahu yang jauh selalu baik-baik saja. selamat senin, pagi
pagi adalah sepasang mata yang sulit terbuka, sebab kau dalam mimpi mampu kulihat sempurna. selamat pagi, jauh yang terasa dekat.
pagi adalah akhir yang selesai dan awal yang bermula. berkata baik-baik saja tanpa senyum terpaksa.
pagi ialah sepotong kamu dalam ingatan acak dan harum aroma kopi—menuntut kususun rapi.
fratidynaa replied to your post: #TulisanPesanan: Apakah Aku Jatuh Pada Cinta yang Salah?
Ka tulisanku yang aku minta di dm twitter jangan lupaaa yaaa :’)
ditunggu gilirannya segera, ya. semoga mau bersabar :D

1.
Kuingat sebuah musim ketika daun-daun kering jatuh di beranda
Kemudian kau mengikat namamu, namaku—menjadi kita
Dan tak ada lagu yang lebih akrab di telinga
Selain ketika bibirmu mengucap ulang luka—yang pernah kau sembuhkan sebelumnya
Aku bertanya-tanya pada diri sendiri:
Tuhan, apakah aku jatuh pada cinta yang salah?
2.
Pergimu tanpa lambaian tangan
Kata-kata tertinggal, membisu di udara, lalu menguap—entah ke mana
Mungkin ke balik bantal, mungkin ke balik jendela
Lalu tidurku tak pernah lelap
Sebab mimpi dan nyata kurasakan sama buruknya
Aku bertanya-tanya pada diri sendiri:
Tuhan, apakah aku jatuh pada cinta yang salah?
3.
Biar bahagia yang menjemputmu lebih dulu
Jika itu yang kau mau
Dan jika denganku bukanlah berarti bahagia bagimu
Katakan waktu yang tepat untukku berlalu
Jangan menunggu hingga cinta padamu ini lebih dari terlalu
Masih—aku bertanya-tanya pada diri sendiri:
Tuhan, apakah aku jatuh pada cinta yang salah?
4.
Ini bukan tentang siapa yang kini bersamamu
Ini tentang cintamu yang berpaling terburu-buru
Salahku yang mana hingga hatimu gagal menetap di dalam aku?
Tapi tak mengapa
Bukankah cinta selalu jatuh ke mana pun takdir membawanya?
Dan perpisahan ialah takdir yang lain
Yang membawa kau dan aku, kembali menjadi orang lain
Ini bukan tentang cinta yang salah
Ini tentang kita yang tak pernah paham cara mencinta dengan benar
Kemudian mematahkan hati sebagai cara lain mempertahankan diri sendiri
5.
Kuingat sebuah musim ketika hujan tak pernah lagi singgah di beranda
Kemudian kau menggenggam hatiku seakan kau bisa hidup hanya dengan bersamanya
Dan tak ada hangat yang lebih akrab di dada
Selain ketika melihatmu bahagia—bersama siapapun kau, pada akhirnya
Semoga kelak aku tak akan bertanya-tanya lagi
Perihal di mana cinta terjatuh
Atau mengapa hidupku tetiba runtuh
Selamat ulang tahun. Kuyakin doaku sudah lebih dari cukup agar Tuhan mengirimimu bahagia—bersamanya.
*ditulis untuk Rifa. maaf sekali baru sempat posting. :( semoga tidak terlalu terlambat dan sesuai isi hati, ya. :’)
gambar diambil dari google
Ajari aku, melekat pada sisa ingatanmu tentang masa lalu. Bukan sebagai abu, tapi sebagai api—meletupkan rindu.
Dalam hati: tersisa kau, tersisih aku. Tersisa rasa, tak tersisa waktu—aku sudah terlambat melupakanmu.
Jejak-jejak puisi di pipi basah tak pernah meninggalkan sisa apa-apa. Kecuali luka, atau cinta, atau cinta yang terluka.
Di sisa usia kita, kekasih, cinta ialah jam dinding tua. Memakan waktu hidup-hidup, menjaga debar yang hampir redup.
Lewat berisik hujan di pekarangan rumah, semesta menghadirkan sepi dengan caranya yang paling puisi.
Dan hujan turun lagi, dari kedua mata sepi yang sudah kau tinggal mencari cinta—sendiri.
Dalam dada yang sedang jatuh cinta, rindu selalu menjadi hujan paling basah—di segala musim.
Hujan turun, menggenang kenang sampai ke balik dada. Kau mau jadi payung, atau pelangi?
Sebab perpisahan selalu terasa nyata, maka biar aku yang lebih dulu terbangun dari mimpimu. Selamat pagi, kau yang jauh.
Aku mengenali pagi lewat jendela-jendela terbuka dan riuh pikiran dalam kepala—juga rindu bernama kau di sudut dada.
Satu per satu, pagi mengantar rindu ke beranda rumahku. Sementara kau dan langkah kakimu terus saja menjauh.